Senin, 07 Mei 2012

Jas Merah Musik Indonesia,,


Jas Merah Musik Indonesia



Jakarta - Sungguh ironis, harta karun musik Indonesia yang melimpah ruah sejak dekade 50-an justru diabaikan atau tepatnya disia-siakan oleh pemiliknya sendiri: Siapa lagi kalau bukan kita bangsa Indonesia?

Dokumentasi dalam bentuk rekaman maupun tulisan tak pernah ditemukan dalam bentuk yang lebih fokus, semisal berada dalam sebuah wadah yang namanya Museum Musik. Kenyataannya benda-benda bersejarah musik Indonesia selama ini hanya bersemayam di rumah-rumah milik para kolektor. Kondisi yang sangat miris.

Data-data industri musik Indonesia mulai era 50an hingga sekarang amat sulit untuk dilacak. Kepedulian malah datang dari bangsa lain. Ambil contoh misalnya tentang buku katalog musik Indonesia yang justru ditulis oleh orang asing bernama Hans Pokora, orang Austria yang menulis buku bertajuk Record Collector Dream.

Buku yang dianggap kitab suci bagi para kolektor musik, terutama piringan hitam dan kaset itu dibuat berseri dengan memuat berbagai album bergenre prog-rock folk, psychedelic rock, hingga world music. Selain itu, memasukkan juga beberapa album musik Indonesia di katalognya, antara lain Ariesta Birawa, Harry Roesli, Koes Bersaudara, Dara Puspita, hingga Guruh Gipsy.

Sejak terbitnya buku ini kegairahan para kolektor vinyl (piringan hitam) dari seantero jagad untuk berburu album-album yang tertuang dalam buku karya Hans Pokora itu kian menjadi-jadi. Bahkan sebuah label kecil di Jerman, Shadoks Music dengan berani merilis ulang album-album itu dalam bentuk CD dan vinyl tanpa izin dari komposer, pemusik serta label Indonesia. Keenan Nasution, drummer dan vokalis Guruh Gipsy lalu mengirim e-mail ke pihak Shadoks untuk menghentikan aksi barbariannya itu.

Beberapa waktu silam saya sempat dihubungi oleh Alan Bishop, pemilik Sublime Frequencies, label kecil dari Seattle Amerika Serikat yang telah merilis ulang album-album Koes Bersaudara, Koes Plus hingga Dara Puspita. Alan Bishop meminta saya dan sahabat saya David Tarigan, sosok penggiat rekaman indie yang juga peduli terhadap data back catalogue untuk menulis buku Katalog tentang musik Indonesia secara ensiklopedik.

Termasuk pula Jason “Mosh” Connoy, seorang kolektor dan pemilik label Strawberry Rain dari Kanada yang beritikad sama dengan Alan Bishop yaitu ingin membuat semacam buku katalog musik Indonesia terutama band-band pop maupun rock di era 60an hingga 70an.

Sebetulnya, itikad yang dicuatkan oleh Alan Bishop maupun Jason “Mosh” Connoy telah saya lakukan beberapa tahun sebelumnya dalam bentuk penulisan buku. Niat itu berangkat dari keprihatinan akan minimnya data-data industri musik di negeri ini.

Lalu bersama Komunitas Pecinta Musik Indonesia, saya menulis dan menjadi editor buku bertajuk “Musisiku” (2007) yang memuat sekita 40 biografi artis dan band Indonesia dari era 50an hingga 80an. Isi buku ini merupakan bunga rampai yang diambil dari rubrik berkala tentang musik Indonesia pada harian Republika.

Di tahun yang sama saya diminta Musica Studio’s untuk membuat semacam scrapbook untuk kemasan 21 album Chrisye dalam bentuk boxset bertajuk Masterpiece Chrisye. Di scrapbook itu saya menulis review serta behind the scene dari penggarapan album-album Chrisye dari tahun 1978 hingga 2004.

Saya juga menulis buku perjalanan karir Keenan Nasution dalam albumnya di tahun 2007 berjudul Apa Yang Telah Kau Buat. Di tahun 2008 saya mendapat pesanan dari Kementrian Pemuda dan Olahrga yang saat itu masih dijabat oleh Adhiyaksa Dault untuk menuliskan riwayat perjalanan musik pop Indonesia yang berlangsung pada komunitas musik Pegangsaan.

Di era 60an hingga 70an Pegangsaan merupakan tempat ngumpul berbagai pemusik, aktor dan seniman yang pada akhirnya menetaskan sosok-sosok mumpuni dalam dunia seni seperti Guruh Soekarno Putera, Chrisye, Keenan Nasution, Eros Djarot, Achmad Albar, Christine Hakim, termasuk pemusik senior saat itu Mus Mualim dan Idris Sardi. Sayangnya buku yang bertajuk Jejak-Jejak Musikal di Pegangsaan itu belum juga diedarkan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga. Entah kenapa.

Sekarang ini saya tengah menyelesaikan beberapa buku tentang musik yang bersifat ensiklopedik dan historikal antara lain Ensiklopop Indonesia, Dheg Dheg Plas – Perjalanan Musik Koes Plus dan 50 Tahun Rock di Indonesia.

Penulisan buku musik yang bertumpu pada sisi historik memang bukan hal yang mudah, terutama riset data yang cukup panjang dan melelahkan. Saya sendiri berprinsip tak mau gegabah dalam menuliskan data, mulai dari data sosok artis, data rekaman dan peristiwa-peristiwa musik yang pernah terjadi di Indonesia.

Contoh yang paling ekstrem adalah sejak era vinyl di awal dasawarsa 50-an, terutama sejak berdirinya label seperti Irama dan Lokananta, hampir tak pernah dicantumkan tahun rilis dan publisher sebuah album rekaman. Ini tentunya sangat menyulitkan untuk membuat buku yang berbentuk katalog apalagi ensiklopedi. Data-data personel dalam sebuah produksi rekaman pun sangat kurang bahkan tak ada dalam sampul albumnya.

Akhirnya beberapa alternatif jalan keluar berusaha saya dapatkan antara lain dengan meriset sejumlah media cetak hiburan yang terbit pada era itu. Dan lagi-lagi hal ini juga bukan pekerjaan yang mudah. Untunglah kerabat saya yang banyak berkutat dalam koleksi meng oleksi musik baik dalam bentuk kaset dan piringan hitam serta sejumlah majalah ikut banyak membantu. Tapi penggarapan buku pun menjadi tersendat-sendat. Buku Ensiklopop Indonesia saja telah melewati masa penggarapan hampir 3 tahun lamanya.

Tapi the show must go on. Saya tetap merasa tercambuk untuk mewujudkan buku-buku sejarah musik Indonesia. Apalagi setiap berkunjung ke beberapa toko buku di Jakarta, hati dan jiwa saya selalu menggelegak manakala melihat tumpukan buku-buku referensi musik manacanegara yang silih berganti terbit dan terbit. Mereka pun menulis buku-buku itu secara komprehensif plus data-data historikal yang runut, detail dan akurat. Mereka tampaknya telah menyadari pentingnya arti sejarah atau dokumentasi dalam setiap sudut kehidupan.

Saya akhirnya mengeluh dan mengeluh tentang perilaku bangsa kita yang ceroboh dan tidak menghargai pentingnya sejarah dan dokumentasi. Saya pun mengangguk tentang akronim yang kerap dikoar-koarkan Presiden RI pertama Ir. Soekarno: JAS MERAH, JAngan Sekali-sekali MElupakan sejaRAH.

Sumber: http://rollingstone.co.id/read/2011/11/22/204030/1773275/1294/jas-merah-musik-indonesia

Calon Gubernur,,,,Ternyata fans berat Trash Metal!!


Jokowi, Rock in Solo


Joko Widodo (Foto: Candra Malik)
Jakarta - Ada peristiwa menarik saat berlangsung konser Linkin Park di Jakarta pada 21 September 2011 lalu. Dua orang pria dengan kostum sederhana menghampiri booth Rolling Stone Indonesia di Gelora Bung Karno, Senayan. Pria pertama memakai baju batik dan berkaca mata. Pria kedua memakai kaos hitam bertuliskan Napalm Death ditutup dengan jaket berwarna merah.

Pria dengan kaos Napalm Death tersebut bernama Joko Widodo. Seorang lelaki berbadan tinggi-kurus yang di Solo dan sekitarnya akrab disapa Jokowi. Ya, dia adalah Jokowi, Walikota Solo yang beberapa hari sebelumnya dengan kaos Lamb of God berbaur dengan para metalhead di arena Rock In Solo menyaksikan band-band metal tampil di kota Solo.

"Aku suka dengan penampilan Death Angel dan Kataklysm di Rock In Solo," katanya menyebut headliner acara Rock In Solo. Sebuah ucapan yang yang tidak biasa, karena ini keluar dari mulut seorang walikota. Seorang pejabat pemerintah yang rasanya "jauh" dari musik seperti Death Angel. Salah satu pahlawan thrash metal yang masih bertahan hingga kini.

Jokowi lantas bertanya kepada saya kemungkinan membawa Lamb of God dan Metallica. Dua nama di wilayah metal yang banyak disukai penggemar. Apalagi nama Metallica. Supergrup metal yang memiliki jutaaan penggemar di muka bumi ini. "Piro ya mbawa Metallica nang Solo?" katanya dengan bahasa Jawa (Berapa biaya mendatangkan Metallica ke Solo?).

Beberapa hari sebelumnya lewat akun Twitter miliknya, dia juga bertanya kemungkinan mendatangkan Lamb of God dan Metallica ke Solo. Tentunya ini mendapat respon luar biasa dari follower Jokowi.

Jokowi sosok yang istimewa. Jokowi meraih lebih dari 90 persen suara dalam pemilihan kepala daerah di Solo tahun 2010 bahkan tanpa kampanye. Sebagai seorang incumbent, ia konsisten bersikap independen. Tanpa repot dengan urusan protokol pejabat yang penuh administrasi dia melenggang dengan santai dan tanpa pengawalan.

Seperti meyaksikan Rock In Solo dan ikut mengantri bersama yang lain saat menyaksikan penampilan Linkin Park di Gelora Bung Karno. Tanpa satupun teman dan pengawal, Jokowi melenggang masuk mengantri dengan yang lain. Sosok pejabat langka yang yang mau berbaur dengan rakyatnya tanpa harus menjual citra diri yang usang dan mudah ditebak.

Kita tahu berapa sering kita melihat pajabat yang kemana-mana dengan dayang-dayang yang berjumlah lebih dari satu. Tentu ada juga pejabat yang merakyat dan bersikap seperti Jokowi. Namun sangat susah kita bisa menemukannya. Bahkan saat seorang pejabat lain menyebut dirinya "bodoh" dia malah menjawab dengan legowo. "Ya saya memang bodoh," katanya santai.

Jokowi adalah Solo hari ini. Ketika bangsa ini rindu sosok pemimpin yang dicintai rakyat, dia adalah cetak biru yang layak menjadi teladan. Di edisi April 2011 kami pernah menurunkan wawancara dengan Jokowi. Jokowi memang pribadi yang menarik. Dia suka duduk di deretan belakang bersama warga di acara pergelaran musik keroncong atau wayang kulit. Ngobrol dengan mereka hingga lewat tengah malam. Namun Jokowi ternyata sangat menyukai musik rock dan metal.

"Saya suka yang cadas. Rock. Metal. Membuat saya tergugah dan sangat bersemangat untuk berkarya. Spirit rock dan metal adalah kebebasan. Saya merasa mendapatkan energi itu dari mendengar musiknya dan membiarkan rambut tumbuh panjang (saat muda). Saat ini pun, saya membebaskan rambut anak-anak kami untuk gondrong, meski mereka harus merapikannya. Apa kata orang kalau anak-anak walikota berambut acak-acakan? Hahaha," ujarnya.

Sebelum kami berpisah dan melenggang masuk untuk menyaksikan Chester Bennington dan teman-teman beraksi di Gelora Bung Karno, beliau menepuk pundak saya dan berkata. "Ayo gerakan 1000 Gitar Untuk Anak Indonesia dibawa ke Solo. Akan kami sambut dengan tangan terbuka," ujarnya dengan nada serius.

Andai saja semua pemimpin negeri ini bisa seperti Jokowi ...

Sumber: http://rollingstone.co.id/read/2011/11/22/204434/1773277/1293/jokowi-rock-in-solo

Sabtu, 28 April 2012

Tugas 11


1.Tipe If - Clause

IF Clause Type 1
if + Simple Present, will-Future
Example: If I find her address, I will send her an invitation.
The main clause can also be at the beginning of the sentence. In this case, don’t use a comma.
Example: I will send her an invitation if I find her address.
Note: Main clause and / or if clause might be negative. See Simple Present und will-Future on how to form negative sentences.
Example: If I don’t see him this afternoon, I will phone him in the evening.
Use
Conditional Sentences Type I refer to the future. An action in the future will only happen if a certain condition is fulfilled by that time. We don’t know for sure whether the condition actually will be fulfilled or not, but the conditions seems rather realistic – so we think it is likely to happen.
Example: If I find her address, I’ll send her an invitation.
I want to send an invitation to a friend. I just have to find her address. I am quite sure, however, that I will find it.
Example: If John has the money, he will buy a Ferrari.
I know John very well and I know that he earns a lot of money and that he loves Ferraris. So I think it is very likely that sooner or later he will have the money to buy a Ferrari.
Exercises on Conditional Sentences Type 1
Some friends are planning a party. Everybody wants to party, but nobody’s really keen on preparing and organising the party. So everybody comes up with a few conditions, just to make sure that the others will also do something.
Complete the Conditional Sentences Type I.
1. If Caroline and Sue the salad, Phil the house.
2. If Sue the onions for the salad, Caroline the mushrooms.
3. Jane the sitting room if Aaron and Tim the furniture.
4. If Bob up the kitchen, Anita the toilet.
5. Elaine the drinks if somebody her carry the bottles. 
Exercises on Conditional Sentences Type 1
Complete the Conditional Sentences (Type I) by putting the verbs into the correct form.
1. If you (send) this letter now, she (receive) it tomorrow.
2. If I (do) this test, I (improve) my English.
3. If I (find) your ring, I (give) it back to you.
4. Peggy (go) shopping if she (have) time in the afternoon.
5. Simon (go) to London next week if he (get) a cheap flight.

IF Clause Type 2
if + Simple Past, main clause with Conditional I (= would + Infinitive)
Example: If I found her address, I would send her an invitation.
The main clause can also be at the beginning of the sentence. In this case, don’t use a comma.
Example: I would send her an invitation if I found her address.
Note: Main clause and / or if clause might be negative. See Simple Past und Conditional I on how to form negative sentences.
Example: If I had a lot of money, I wouldn’t stay here.
Were instead of Was
In IF Clauses Type II, we usually use ‚were‘ – even if the pronoun is I, he, she or it –.
Example: If I were you, I would not do this.
Use
Conditional Sentences Type II refer to situations in the present. An action could happen if the present situation were different. I don’t really expect the situation to change, however. I just imagine „what would happen if …“
Example: If I found her address, I would send her an invitation.
I would like to send an invitation to a friend. I have looked everywhere for her address, but I cannot find it. So now I think it is rather unlikely that I will eventually find her address.
Example: If John had the money, he would buy a Ferrari.
I know John very well and I know that he doesn’t have much money, but he loves Ferraris. He would like to own a Ferrari (in his dreams). But I think it is very unlikely that he will have the money to buy one in the near future.
Exercise on Conditional Sentences Type 2
Janine is a daydreamer. She imagines what would happen if she won the lottery.
Complete the Conditional Sentences Type II.
1. If I the lottery, I a chance to hit the jackpot.
2. If I the jackpot, I rich.
3. If I rich, my life completely.
4. I a lonely island, if I a nice one.
5. If I a lonely island, I a huge house by the beach.
Exercise on Conditional Sentences Type 2
Complete the Conditional Sentences (Type II) by putting the verbs into the correct form. Use conditional I with would in the main clause.
1. If we (have) a yacht, we (sail) the seven seas.
2. If he (have) more time, he (learn) karate.
3. If they (tell) their father, he (be) very angry.
4. She (spend) a year in the USA if it (be) easier to get a green card.
5. If I (live) on a lonely island, I (run) around naked all day. 

IF Clause Type 3


if + Past Perfect, main clause with Conditional II
Example: If I had found her address, I would have sent her an invitation.
The main clause can also be at the beginning of the sentence. In this case, don’t use a comma.
Example: I would have sent her an invitation if I had found her address.
Note: Main clause and / or if clause might be negative. See Past Perfect and Conditional II on how to form negative sentences.
Example: If I hadn’t studied, I wouldn’t have passed my exams.
Use
Conditional Sentences Type III refer to situations in the past. An action could have happened in the past if a certain condition had been fulfilled. Things were different then, however. We just imagine, what would have happened if the situation had been fulfilled.
Example: If I had found her address, I would have sent her an invitation.
Sometime in the past, I wanted to send an invitation to a friend. I didn’t find her address, however. So in the end I didn’t send her an invitation.
Example: If John had had the money, he would have bought a Ferrari.
I knew John very well and I know that he never had much money, but he loved Ferraris. He would have loved to own a Ferrari, but he never had the money to buy one.
Exercise on Conditional Sentences Type 3
What a match – your favourite team has lost again! So after the game, the supporters discuss what could have been different.
Complete the Conditional Sentences Type III.
1. If the midfielders the ball more exactly, our team more chances to attack.
2. If the forwards faster, they more goals.
3. Their motivation if they a goal during the first half.
4. The fullbacks one or the other goal if they their opponents.
5. If the goalie up, he the ball.
Exercise on Conditional Sentences Type 3
Complete the Conditional Sentences (Type III) by putting the verbs into the correct form. Use conditional II with would in the main clause.
1. If you (study) for the test, you (pass) it.
2. If you (ask) me, I (help) you.
3. If we (go) to the cinema, we (see) my friend Jacob.
4. If you (speak) English, she (understand) .
5. If they (listen) to me, we (be) home earlier.

2.Tipe Wish
Wish dalam Bahasa Inggris mempunyai beberapa arti dan makna. Di bawah ini akan kami jelaskan secara terperinci tentang jenis-jenis makna dan arti dari “wish”. Semoga penjelasan di bawah ini dapat membantu Anda dalam menggunakan kata “wish” secara baik dan tepat.
Kata wish sama artinya dengan ekspresi “would like”:

I wish I had a big house = I would like to have a big house.
I wish I had been there = I would like to have been there.
I wish you would stop talking = I would like you to stop talking.
I wish to see the manager = I would like to see the manager.
I wish you a Merry Christmas = I would like you to have a Merry Christmas.

Fungsi utama dari kata “wish” adalah untuk mengekspresikan penyesalan.

I wish (that) I weren’t here now.
I wish (that) I didn’t have to go to school tomorrow.
I wish (that) I had studied harder when I was at school.

Tenses yang mengikuti wish sama dengan second dan third conditionals. Kata that dapat dihilangkan dalam percakapan tidak resni.

Ekspresi wish … would digunakan untuk membicarakan tentang keinginan agar orang lain melakukan sesuatu:

I wish you would tidy your room.
I wish you wouldn’t always come home so late.

Dalam situasi tidak resmi, wish + (object) + infinitive dapat digunakan seperti pemakaian kata “want”:

I wish to speak to the director.
Do you wish me to serve refreshments, sir?
Wish is also used in some fixed expressions:
I/we wish you a Merry Christmas (and a Happy New Year).
I/we wish you well/all the best.


3. Fungsi dari masing-masing Tipe
Type 1
Fungsi : digunakan untk menyatakan suatu peristiwa yg akan terjadi diwaktu yang akan bila syarat tertentu
RUMUS ==
( IF + S + V1/Ves + O, S + WILL + V1 + O )
Ex. If Igraduatedfrom my college on time, Theywill giveme the jobIf heishere, Iwill behappy
Type 2
Fungsi : digunakan untk menyatakan peristiwa yang tak mungkin terjadikarena syarat tdk dpat dipenuhi (unlike condition)RUMUS ==
( IF + S + V2/Ved + O, S + Would + V1 + O )
Ex. If Iwonthe lottery, Iwould buythe houseIf shewerehere with me, Iwould bevery happyKet_gunakan ´wereµ kalo ga ada kata kerja., untk smua subjek. µwasµ tidakberlaku
Type 3
Fungsi : digunakan untk menyatakan keadaan yang seharusnya telah terjadi diwaktu lampau, namun tak terjadi karena syarat tak terpnuhi.RUMUS ==
( IF + S + Had V3 + O, S + Would have V3 + O
Ex. If uhad attendedmy party last night, uwould havemet your old friends.If shehad beenfine, Iwould not have been sad.
4. 10 contoh kalimat Pengandaian beserta Faktanya.
-If I got the money,would buy you the comic. Fact: Idon·t getthe money so Idon·t buy you the comic.
-If my mother prepared the break fast, we would eat it. fact : Mother doesn’t preparethe breakfast so wedon·teat it.
-Father would pickme if I asked him. fact : Father doesn’t pickme because Idon·task him.
-If the teacher didn’t comewewouldbe happy. fact : The Teacher comes so wearen·tbe happy.
-The teacher would giveus the test if we were ready. fact : The teacherdoesn·t giveus the test because we aren’t ready.
-The boy wouldn’t playin the rain if his motherdidn·t permithimThe boyplaysin the rain because his Mother permitshim.
-If he had visited me, I would have been happyHedidn·t visitedme so I wasn·t happy.
-If they had not attendedthe meting, they wouldn’t have gotten the information.
-They attended the meting, they got the information.
-I would have beenlate if I hadn·t gotten up earlyIwasn·tlate because I got up early.

Sumber:
http://rizqialextoramadhan.wordpress.com/2011/11/08/if-clause-dan-wish/
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/04/tugas-11-bagian-2-sofskill-bahasa-inggris/

Tugas 10


1. Definisi Conditional Sentences

Conditional sentence adalah kalimat yang terdiri dari dua klausa (if clause dan result clause) yang salah satunya berisi syarat/kondisi yang memengaruhi kebenaran kalimat tersebut. Posisi kedua klausa dalam kalimat ini bisa berubah-ubah, bisa if clause terlebih dahulu ataupun result clause terlebih dahulu, tanpa mengubah arti kalimat.Namun demikian, terdapat perbedaan struktur kalimat tergantung klausa yang mana yang diletakkan terlebih dahulu. Jika If clause diletakkan terlebih dahulu, maka diperlukan koma (,) untuk memisahkan kedua klausanya.

2. Bentuk Conditional Sentences

Tipe I (present/future-true condition)
Tipe yang pertama digunakan dalam kalimat yang kejadiannya terjadi pada rentang waktu kini (present) hingga masa depan (future).
Tipe II (present-untrue condition)
Tipe kedua ini juga memiliki rentang waktu masa kini dan masa depan sebagaimana tipe pertama. Yang membedakan tipe ini dengan yang pertama adalah kalimat ini digunakan untuk kalimat pengandaian
Tipe III (past-untrue condition)
Tipe yang ketiga adalah untuk kejadian di waktu lampau, dan kejadiannya berlawanan dengan yang terdapat di kalimatnya. Atau, bisa dikatakan tipe ketiga digunakan untuk kejadian yang sudah terlanjur terjadi dan tak mungkin berubah lagi.
10 Kalimat yang menggunakan Conditional Sentences:

If water evaporates,it becomes gas.
I will go to bed if I am sleepy.
If I were a billionaire, I would buy an island and make my own country there.
She would be able to go if she didn’t sick.
If you had told me about the problem, I would have helped you.
I wouldn’t have broken my arm if I hadn’t slipped on the stair.
I would buy a new car, if I won the competition
I won’t mark your homework, unless you hand it in.
Unless you hand in your homework, I won’t mark it.
Water boils if you heat it to 100 degrees Celsius.
Sumber:
http://linggris.wordpress.com/2010/07/25/conditional-sentences/

Tugas 09



1. Kalimat Passive Berbentuk Negatif
-the rice will be planted by the farmer next month
-a new house will be built by my father next year
-the news paper has been read by me just now
-the radio will have been listened by Ani tomorrow
-Ali is being waiting by us now
-a cup of coffe is being drunk by us now
-the flower is being watered by her now
-Algebra would be borrowed by him last month
-her aunt would be visited by her yesterday
-Enny is given Mandy a dictionary




2. Kalimat Pasif Berbentuk Kalimat Tanya
-would biology be learnt by Arry last year?
-will a new house be built by my father next year?
-has the newspaper been read by me just now?
-has Ekky been visited by Susanto in Solo just now?
-has the car been driven by her just now?
-have the flowers been watered by Ani just now?
-had the dog been bitten by Rina last night?
-had Andini novel been bought by her last month?
-will the radio have been listened by Ani yesterday?
-would dictionary be bought by us last week?
Sumber:
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2012/04/tugas-09/

Tugas 08


1. Definisi Intransitive Verb

Intransitive verb adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek atau pelengkap penderita

2. Kategori Kata Kerja Intransitive
    1. Kata kerja intransitif yang mana saja, yang membuat pengertian lengkap dengan sendirinya, dan tidak memerlukan kata atau kata-kata apa saja untuk ditambahkan padanya untuk maksud ini, disebut intransitive verbs of complete predication.
Contoh:
    • Cows walk,
    • horses run, dsb.
    1. Intransitive verb with complement (kata kerja intransitif dengan komplemen)
Kata-kata kerja intransitif yang tidak membuat pengertian yang lengkap dengan sendirinya, tetapi memerlukan komplemen, disebut intransitive verbs of incomplete predication.
Komplemen untuk kata kerja intransitif dalam bentuk yang sama jenisnya seperti komplemen untuk kata kerja transitif.
Subject
Cows
The woman
The horse
Verb
are
has fallen
continued
Complement
four-legged animals (benda)
sick (kata sifat)
running (partisip)
    1. The cognate object (objek yang sama asalnya, sifatnya atau artinya)
Kata kerja intransitif kadang-kadang boleh diikuti oleh kata benda yang sedikit banyak telah dinyatakan secara tidak langsung dalam kata kerja itu sendiri.
Jadi kita boleh mengatakan “He has lived a happy life” (ia hidup bahagia). Kata benda “life” (kehidupan) telah dinyatakan secara tidak langsung dalam kata kerja “lived” (hidup), dan sebenarnya merupakan bagian dari artinya.
Objek yang demikian disebut cognate object, karena kata benda yang menunjuk padanya merupakan arti yang sama terhadap kata kerja itu sendiri.

3. 10 Kalimat Intrasitive Verb:

-He is running.
-He is reading.
-He is turning around
-Cows walk
-Horses run
-Birds fly
- Jimmy Page take a walks.
- George Harrison was sleeping.
- Bob walks the dog for miles.
- The apes played in the woods.

Sumber:
http://www.englishgrammar-exercises.com/Verbs_intransitive1.php

Jumat, 20 April 2012

Tugas 07


Tugas 07.

1. Transitive verb yaitu kata kerja yang memerlukan objek untuk menyempurnakan arti kalimat atau melengkapi makna kalimat.

2. Kata kerja Transitive adalah :
    - Drink
    - Watch
    - Read
    - Fill
    - Open
    - Close

3. Contoh kalimat :
     - He watches the film
     - The man cuts the tree
     - He struck the board
     - He bought a shirt
     - They watch the film
     - You push the door
     - He killed a snake
     - She brushes her hair every hour
     - Arina will lose the race
     - He is reading a magazine