BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini orang
– orang semakin sibuk dengan kegiatan keseharian mereka yang banyak menghabiskan
banyak waktu. Manusia seperti terjebak di suatu aturan oleh waktu yang tiap
jam,menit dan detik yang sudah ditentukan. Proses berpikir tersebut hanya
terkontrol pada area manusia yang dimana dapat menimbulkan penalaran.
Penalaran adalah
proses berpikir yang
bertolak dari pengamatan indera
(pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian.
Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi
yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap
benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Berdasarkan uraian
diatas penulis akan menjelaskan tentang apa
yang dimaksud dengan penalaran tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
- Apakah yang dimaksud dengan penalaran?
- Bagaimanakah cara menguji data,fakta dan autoritas?
1.3 Tujuan
Untuk menjelaskan tentang penalaran kepada pembaca yang
dapat berguna dalam kehidupan sosial dan lainnya.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Penalaran
Penalaran
adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis,
berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang
menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses
inilah yang disebut menalar.Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar
penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.
2.2 Proporsisi
Proporsi
merupakan kata yang sangat biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari dan sangat
familiar di telinga kita, akan tetapi pertanyaannya adalah apakah kita sudah
tahu apa arti sebenarnya dari proporsi. Kita sering mengatakan "Wah, orang
itu tinggi badan dan berat badannya proporsional", atau dengan kata yang
lain "Kalau berbuat sesuatu itu yang proporsional, jangan
berlebih-lebihan". Sebenarnya apakah arti dari proporsional. Menurut Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia (Indrawan, 2000, p.409) proporsi adalah keseimbangan.
Jadi ungkapan yang di depan tadi "Wah, orang itu tinggi badan dan berat
badannya proporsional" berarti antara tinggi badan dan berat badan
seimbang.
2.3 Inferensi dan Implikasi
Merupakan
suatu proses untuk menghasilkan informasi dari fakta
yang diketahui. Inferensi adalah konklusi
logis atau implikasi berdasarkan informasi yang tersedia. Dalam
sistem pakar, proses inferensi dialakukan dalam suatu modul yang disebut
inference engine. Ketika representasi pengetahaun pada bagian knowledge
base telah lengkap, atau paling tidak telah berada pada level yang
cukup akurat, maka representasi pengetahuan tersebut telah siap
digunakan. Sedangkan Implikasi itu
artinya akibat, seandainya dikaitkan dengan konteks bahasa hukum, misalnya
implikasi hukumnya, berarti akibat hukum yang akan terjadi berdasarkan suatu
peristiwa hukum yang terjadi.Bahasa hukum sebenarnya tidak rumit, prinsipnya
bahasa hukum masih mengikuti kaidah EYD, bahasa Indonesia baku. Tetapi, untuk konteks tertentu, ada
hal-hal yang tidak bisa mempergunakan bahasa Indonesia
baku.
2.4 Wujud Evidensi
Evidensi merupakan semua fakta
yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas yang dihubungkan
untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak
boleh digabung dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan atau penegasan. Dalam
wujud yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang
dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari
suatu sumber tertentu
2.5 Cara Menguji Data
Data dan informasi yang digunakan
dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian
melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap
digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan
untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas
2.6 Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang
kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian
tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan
bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus
mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat
digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi
1. Konsistensi
2. Koherensi
2.7 Cara Menilai Autoritas
Seorang
penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari
tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan
pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian
atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
BAB III PENUTUP
Kesimpulannya adalah penalaran
bekerja berdasarkan penglihatan ataupun pendengaran yang menimbulkan suatu
konsep. Dan dari konsep tersebut timbulah proporsisi- proporsisi. Proporsi
adalah keseimbangan yang berfungsi dalam konsep penalaran.
Daftar
Pustaka :
http://nabella2326.blogspot.com/2012/03/wujud-evidensi.html
Sumber : http//wikipedia.com
SOAL-SOAL BAB 1
1. Proses penafsiran fakta sebagai dasar
untuk menarik kesimpulan dalah pengertian dari :
A.
Penalaran
B. Proposisi
C. Wujud Evidensi
D. Inferensi dan Implikasi
2. Ada
berapa jenis dari proposisi?
A. 4
B.
3
C.
2
D.
1
3. Merupakan
semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas yang
dihubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran merupakan pengertian dari :
A. Wujud Evidensi
B.
Penalaran
C.
Implikasi
D.
Inferensi
4. Ada
berapa cara dalam menguji data?
A. 3
B.
2
C.
1
D.
4
5. Interferensi merupakan kekeliruan
yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu
bahasa terhadap bahasa lain mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan
kosakata, berdasarkan pernyataan diatas merupakan pendapat dari :
A. Alwasilah ( 1985:131)
B.
Chaer
dan Agustina (1995:158)
C.
(Suwito,1985:55)
D. Jendra (1991:109)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar